Masa yang berlalu….

•May 20, 2009 • Leave a Comment

Agak lama aku tak berkesempatan untuk menjengah blog aku yang satu ini….dengan terpaksa berkejar dengan masa dan kesihatan yang banyak menduga kekuatan.  Tetapi selagi DIA bersamaku aku akan cukup kuat untuk menghadapi segalanya.

Hari ini anak bujangku yang nombor dua begitu berhajat menjamu rakan2 tuisyennya dengan spagethi masakanku.  Nak ku hampakan hajatnya tak sampai hati….dengan berapa kali aku terbaring antara waktu senggang itu sempat juga memasak makanan yang dimintanya itu. Ok sayang…..selamat makan dengan kawan2…

Image016

Something to think off….

•May 20, 2009 • Leave a Comment

29vmnwn

New thing i learn….

•March 25, 2009 • Leave a Comment
If I feel depressed, I will learn to cheer up,
If I feel sad, I will learn to laugh,
If I feel ill, I will learn to be healthy,
If I feel fear, I will learn to plunge ahead,
If I feel inferior, I will learn to lookup to myself,
If I feel uncertain, I will learn to raise my voice,
If I feel poverty,I will learn to think of the wealth to come,
If I feel incompetent, I will learn to think of my
past successes,
If I feel insignificant, I will learn to remeber my goals,
I will learn to be the master of my emotions,
I WILL LEARN TO CHANGE …..

Kita dan ibu…

•March 5, 2009 • Leave a Comment

Sesuatu yang patut kita kongsi bersama….

¿ KETIKA BERUSIA SETAHUN,

IBU SUAPKAN MAKANAN DAN MANDIKAN KITA. CARA KITA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADANYA HANYALAH DENGAN MENANGIS SEPANJANG MALAM.

 

¿ APABILA BERUSIA 2 TAHUN,

IBU MENGAJAR KITA BERMAIN, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN LARI SAMBIL KETAWA TERKEKEH-KEKEH APABILA DIPANGGIL.
¿ MENJELANG USIA KITA 3 TAHUN,

IBU MENYEDIAKAN MAKANAN DENGAN PENUH RASA KASIH SAYANG, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN MENUMPAHKAN MAKANAN KE LANTAI.

 

¿ KETIKA BERUSIA 4 TAHUN,

IBU MEMBELIKAN SEKOTAK PENSEL WARNA, KITA
UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN MENCONTENG DINDING.

 

¿ BERUSIA 5 TAHUN,

IBU MEMBELIKAN SEPASANG PAKAIAN BARU, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN BERGOLEK-GOLEK DALAM LOPAK KOTOR.

 

¿ SETELAH BERUSIA 6 TAHUN,

IBU MEMIMPIN TANGAN KITA KE SEKOLAH, KITA
UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN MENJERIT : “TAK NAK! TAK NAK!”

 

¿ APABILA BERUSIA 7 TAHUN,

IBU BELIKAN SEBIJI BOLA. CARA MENGUCAPKAN
TERIMA KASIH IALAH KITA PECAHKAN CERMIN TINGKAP JIRAN.

 

¿ MENJELANG USIA 8 TAHUN,

IBU BELIKAN AISKRIM, KITA UCAPKAN TERIMA
KASIH DENGAN MENGOTORKAN PAKAIAN IBU.

 

¿ KETIKA BERUSIA 9 TAHUN,

IBU MENGHANTAR KE SEKOLAH, KITA UCAPKAN
TERIMA KASIH KEPADANYA DENGAN PONTENG KELAS.

 

¿ BERUSIA 10 TAHUN ,

IBU MENGHABISKAN MASA SEHARI SUNTUK MENEMANKAN KITA KE MANA SAJA, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN TIDAK BERTEGUR SAPA DENGANNYA.

¿ APABILA BERUSIA 12 TAHUN,

 IBU MENYURUH MEMBUAT KERJA SEKOLAH, KITA
UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN MENONTON TELEVISYEN.
¿ MENJELANG USIA 13 TAHUN,

IBU SURUH PAKAI PAKAIAN YANG MENUTUP AURAT, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADANYA DENGAN MEMBERITAHU BAHAWA PAKAIAN ITU TIDAK SESUAI ZAMAN SEKARANG.
¿ KETIKA BERUSIA 14 TAHUN,

IBU TERPAKSA MENGIKAT PERUT UNTUK MEMBAYAR WANG PERSEKOLAHAN DAN ASRAMA, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADANYA DENGAN TIDAK MENULIS SEPUCUK SURAT PUN.
¿ BERUSIA 15 TAHUN,

IBU PULANG DARIPADA KERJA DAN RINDUKAN PELUKAN
DAN CIUMAN, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH DENGAN MENGUNCI PINTU BILIK.

¿ MENJELANG USIA 18 TAHUN,

IBU MENANGIS GEMBIRA APABILA MENDAPAT TAHU KITA DITERIMA MASUK KE IPTA, KITA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADANYA DENGAN BERSUKA RIA BERSAMA KAWAN-KAWAN.

 

¿ KETIKA BERUSIA 19 TAHUN,

IBU BERSUSAH PAYAH MEMBAYAR YURAN PENGAJIAN, MENGHANTAR KE KAMPUS DAN MENGHERET BEG BESAR KE ASRAMA, KITA HANYA UCAPKAN SELAMAT JALAN PADA IBU DI LUAR ASRAMA KERANA MALU DENGAN KAWAN-KAWAN.

 
¿ BERUSIA 20 TAHUN,

IBU BERTANYA SAMA ADA KITA ADA TEMAN ISTEMEWA,
KITA KATA, “?ITU BUKAN URUSAN IBU.”

¿ SETELAH BERUSIA 21 TAHUN, IBU CUBA MEMBERIKAN PANDANGAN MENGENAI KERJAYA,

KITA KATA, “SAYA TAK MAHU JADI SEPERTI IBU.”
¿ APABILA BERUSIA 22-23 TAHUN,

IBU MEMBELIKAN PERABOT UNTUK RUMAH
BUJANG KITA. DI BELAKANG IBU KITA KATAKAN PADA KAWAN-KAWAN?.

 “PERABOT PILIHAN IBU AKU TAK CANTIK, TAK BERKENAN AKUUU!”

 
¿ MENJELANG USIA 24 TAHUN,

IBU BERTEMU DENGAN BAKAL MENANTUNYA DAN BERTANYAKAN MENGENAI RANCANGAN MASA DEPAN, KITA MENJELING DAN MERUNGUT, “IBUUU, TOOOOOLONGLAHHH?.”
¿ KETIKA BERUSIA 25 TAHUN,

IBU BERSUSAH PAYAH MENANGGUNG PERBELANJAAN MAJLIS PERKAHWINAN KITA. IBU MENANGIS DAN MEMBERITAHU BETAPA DIA SANGAT SAYANGKAN KITA TAPI KITA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADANYA DENGAN BERPINDAH JAUH.
¿ PADA USIA 30 TAHUN,

IBU MENELEFON MEMBERI NASIHAT DAN PETUA
MENGENAI PENJAGAAN BAYI, KITA DENGAN MEGAH BERKATA, “?

ITU DULU, SEKARANG ZAMAN MODEN.

¿ KETIKA BERUSIA 40 TAHUN,

IBU MENELEFON MENGINGATKAN MENGENAI KENDURI-KENDARA DI KAMPUNG, KITA BERKATA, “KAMI SIBUK, TAK ADA MASA NAK DATANG.”

 

¿ APABILA BERUSIA 50 TAHUN,

IBU JATUH SAKIT DAN MEMINTA KITA MENJAGANYA, KITA BERCERITA MENGENAI KESIBUKAN DAN KISAH-KISAH IBU BAPA YANG MENJADI BEBAN KEPADA ANAK-ANAK.

¿ DAN KEMUDIAN SUATI HARI, KITA MENDAPAT BERITA IBU MENINGGAL! KHABAR ITU BAGAIKAN PETIR! DALAM LELEHAN AIR MATA, BARULAH SEGALA PERBUATAN KITA TERHADAP IBU MENERPA SATU PERSATU.
JIKA IBU MASIH ADA, SAYANGI DIA. JIKA TELAH MENINGGAL, INGATLAH KASIH DAN SAYANGNYA. SAYANGILAH IBU KERANA KITA SEMUA HANYA ADA SEORANG IBU KANDUNG.

Dan berdoalah  kita selalu pada Allah s.w.t.  selepas solat 5 Waktu ” Ya Allah ampunilah dosa kedua org tua ku sebagaimana mereka telah menjaga ku Diwaktu Kecil hingga Lah Ku besar sekarang ini…

 

Ampuni Lah Dosa ku Kerana tak memberikan Sepenuhnya KasihSayang Ku pada Mereka Kerana Ku diwaktu itu Lebih Rela Berikan Sepanuh KasihSayang Ku pada kawan2 Ku Dan BF /Gf ku Darinya…Ampuni Lah Dosa..Dosa….Dosa Ku Ya Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang…Ku menyesaliNya Ya Allah………

 

HADIAH KAN LAH ” AL-FATIHAH ” UNTUK IBU YANG MASIH HIDUP MAHU  PUN YANG TELAH PERGI MENINGGALKAN KITA .SESUNGGUHNYA PADA ALLAH S.W.T. KITA DATANG DAN KEPADANYA KITA AKAN DIKEMBALIKAN .

 

 

” AL- FATIHAH BUAT IBU-IBU SEMUA MAHUPUN YG MASIH HIDUP APA TAH LAGI YANG TELAH MATI…..

 

” AL- FATIHAH ” .

 

 

AMIN YA ALLAH..MAKBULKAN LAH DOA KAMI….YA ALLAH RAB’BAL’A’LAMI . AMIN ,  AMIN  , AMIN .

SEMOGA ROHNYA DITEMPAT BERSAMA2 ISTERI NABI BESAR KITA S.A.W.,BERSAMA2 ORG2 BERIMAN MUSLIMAH,ORG2 SOLEHEH MUSLIMAT DIDALAM SYURGA YANG PENUH DENGAN KENIKMATAN KERANA AMALAN TAATNYA KEPADA ALLAH S.W.T. DAN RASULLILAH S.A.W. DIATAS DUNIA INI .

TELAH BENAR LAH JANJI ALLAH S.W.T. DIDALAM AL-QURAN DAN AL-HADIS…

 

 

AMIN YA ALLAH YA RAHAM YA RAHIM YA ROB’BALALAMIN . AMIN , AMIN , AMIN .

Six Needs of Every Successful Relationship

•February 26, 2009 • Leave a Comment

Artikel ini aku perolehi dari alongku….semoga dapat aku kongsi bersama kebaikannya dengan rakan2 yang mengunjungi blogku. Ilmu yang dimanfaatkan akan lebih mendapat keredhaan dan keberkatan….

Although most of us desire a healthy relationship, it’s surprising how many of us don’t really understand what makes love survive long term. Most of us are bombarded with images of love and sex in magazines, TV adverts, and on the radio, but often they idealize, romanticize, or trivialize love. So it’s hard to work out what the keys to lasting passion and love are.

So much is written about it, yet it is an emotion that gets the least attention within families and schools. We’re not taught about it — we just seem to either catch it, pick it up as we go along, or copy our own mom and dad’s relationship!

Yet there is perhaps no greater source of happiness, joy, and fulfillment or heartache, despair, or pain than love.

Keeping the glow with your partner is not easy, and no matter where you are in your relationship, it’s important to regularly check in on it from time to time to keep it fresh, keep it growing, and keep it watered and nurtured.

With just a slight shift in your perceptions and beliefs about marriage and partnerships, you can re-kindle the flame of love, re-ignite intimacy, and fan the flames of passion if you are open and willing to give it a go.

Interestingly, we say we love the people in our lives, yet we often don’t act very lovingly with our words, our tone of voice or our body language, or our attitude toward the very people who are the most important to us. And it’s ironic that no amount of money, success, status, or fame will ever come close to the warm glow of a loving and nurturing relationship.

“Women are afraid to ask for what they want because they are afraid at a deep subconscious level that they will get replaced by someone less demanding and more compliant, and men don’t even acknowledge that they want or need anything because if they do, it implies that they are not a real man. So we have two people sitting around wanting all these things from each other, probably capable of giving each other many of them, but not talking about it. Then they both feel depressed, both feel resentful, both feel deprived, they cheat on each other, and you have a divorce. It could be prevented by straight talking and clear asking.”Barbara De Angelis, best-selling author and renowned relationship expert

The Driving Force of All Human Needs

All of us are driven by the same basic human needs in some form or other, and working out what your own needs are first is a great place to start if you want a truly fulfilling and meaningful relationship.

There are six levels of basic needs in life, and each level supports the next one like the layers in a pyramid. If one need is not being met, it is very difficult to have a truly fulfilling relationship.

There are four primary needs (certainty, variety, significance, and love) and two spiritual needs (growth and contribution), but the key element in a happy and successful relationship is in getting our needs met in the way we value them the most.

The problem, or the challenge, in a relationship is that we all differ in the order of priority we put these needs in and in how we value each of them in our lives.

So if you value security and certainty first in your list of needs, you can see how you’d find it challenging to be in a relationship with a person who loves uncertainty or lots of variety in their life.

The secret is to understand where you truly are, where you feel most comfortable, and then to think about how that influences your life and relationship so you can learn how to expand the choices that are available to you.

If you don’t fulfill your needs, then you feel off kilter, out of balance, and unhappy.

When you know what you genuinely need, you can work out how to go about getting your needs met yourself and by also talking them through with your partner so you can fulfill their needs as well.

The secret is know what your needs are and in what order of importance, and then to take a little time to explain what they are to your partner — and watch your relationship flourish.

Grab a pen and paper to jot down your thoughts as you ponder over the next week or so.

Need One: The Need for Certainty

People who need certainty like consistency, control, safety, security, and routines, and to avoid uncertainty they often resort to controlling behavior to try and feel safe and in control of most situations.

* Think about all the ways you currently get certainty in your life at the moment.
* Are these needs being fully met?
* How could you get them met?

Need Two: The Need for Variety/Uncertainty

People who need uncertainty like surprises, diversity, difference, excitement, and challenges and find too many routines dull, lifeless, and boring. They may even “pick a fight” to get some reaction that’s unpredictable and stimulating as they love taking on new challenges.

* Think about all the ways you currently get uncertainty/variety in your life at the moment.
* Are these needs being fully met?
* How could you get them met?

Need Three: The Need for Significance

People who need significance have a sense of being needed and of feeling important and unique and noticed. They need to have a sense of purpose and meaning in their lives.

This can lead to them accumulating material possessions, academic success, or even a keenness to keep developing their skills and knowledge. They like to have their accomplishments noticed and recognized and may get their need for significance through their children. It’s not about showing off, but it is about feeling recognized for their value and accomplishments.

* Think about all the ways you currently get significance in your life.
* Are these needs being fully met?
* How could you get them met?

Need Four: The Need for Connection and Love

People who need to feel love and connection enjoy sharing and intimacy, and a sense of feeling part of…. They enjoy bonding spiritually, as well as physically, and like to feel at one with another person. They enjoy the sense of meaning love and connection can give them. If this need isn’t met, they can often take refuge in negative destructive behavior like drinking too much, smoking or getting into gangs if they are young, or find themselves self-sacrificing their own needs to get a sense of connection with another.

* Think about all the ways you currently get connection and love in your life at the moment.
* Are these needs being fully met?
* How could you get them met?

Need Five: The Need for Growth

People who need growth enjoy expanding their knowledge, comfort zones, and friendships. They enjoy self-development and learning about themselves and what they are capable of, and they enjoy their relationship moving forward, expanding, and growing — not stagnating and staying still.

Relationships can either see one partner growing, changing, and going off in a different direction, or see one partner growing, changing, and growing at a different speed. The secret is to recognize what’s happening and to talk about it and to work out ways you can grow, change, and keep together.

* Think about all the ways you currently get the need for growth in your life at the moment.
* Are these needs being fully met?
* How could you get them met?

Need Six: The Need for Contribution

People who need contribution in their lives feel the need to give back and to share their expertise, knowledge, time, or money to help their community, their business, their family, their school, a charity, or the world as a whole. They have a need to feel unity with others and to make a difference in the world in some small or large way.

* Think about all the ways you currently get the need to contribute in your life at the moment.
* Are these needs being fully met?
* How could you get them met?

Getting more of what you need:

* At the moment, which of the Six Needs are you really looking for?
* Which ones are the most important in your life?
* How can you begin to identify better, maybe even healthier, ways to get them met?

If you’re ever going to be happy in your relationship, it’s important to ensure that your emotional needs are being fully met. Your partner doesn’t need to meet 100% of your needs, but they will almost certainly need to support all of the important ones for you to be truly happy in your relationship.

Getting your needs met is essential if you ever intend to find your love for life, but don’t expect your partner to be able or willing to fulfill every one of your needs. No one person can do that.

Different friends, family, and work colleagues and having different hobbies and interests with different people can all contribute to fulfilling your needs. So open up to all the possibilities that life can offer you and don’t place too many demands on any one person.

Take responsibility for fulfilling your own needs.

Everything you want and need is waiting for you, so just start recognizing what you need, ask for it to be met, and embrace life and love with both arms wide open.

February is Pass It Forward Month! So if you have found this article helpful and thought-provoking, please pass it forward to your friends, colleagues, schools, and nurseries because as they say… “Alone we can do so little; together we can do so much.”

Tentang hati…..

•February 24, 2009 • Leave a Comment

MaTa HaTi .

Pandangan mata selalu menipu

Pandangan akal selalu tersalah

Pandangan nafsu selalu melulu

Pandangan hati itu yang hakiki

Kalau hati itu bersih

Hati kalau selalu bersih

Pandangannya akan menembusi hijab

Hati jika sudah bersih

Firasatnya tepat kehendak Allah

Tapi hati bila dikotori

Bisikannya bukan lagi kebenaran

Hati tempat jatuhnya pandangan Allah

Jasad lahir tumpuan manusia

Utamakanlah pandangan Allah

Daripada pandangan manusia

Imam Al Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Minhajul Abidin, mengatakan, bahwa Ilmu yang fardlu ain dituntut oleh seorang muslim adalah mencakup 3 hal, yaitu :

1. Ilmu Tauhid

2. Ilmu Syariat(FEKAH )

3. Ilmu Sir (Tasauf / Ilmu tentang hati)

Islam .

Iman .

Ihsan .

Dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam maupun
bukan.

Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan untuk perubahan diri.

Ilmu Tauhid dan syariat, dikalangan ummat Islam sekarang ini demikian popular untuk dipelajari. Namun jarang sekali orang yang mempelajari dan mengerti mengenai Ilmu Sir ( Tasauf /Ilmu tentang hati).

Lantas mungkin kita akan bertanya, untuk apakah belajar Ilmu tentang hati, atau macam manakah ilmu tentang hati tsb?

Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila shalih (tidak rusak), maka akan shalih seluruhnya, tetapi apabila buruk maka akan buruk pula seluruhnya, itulah hati”.

Bahkan di hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan : ” Sesungguhnya sebuah amal itu bergantung dari niatnya”.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sungguh, hal-hal ibadah syariat yang kita laksanakan sepanjang hari akan tidak mempunyai nilai, bila tidak disertai niat yang shalih…

Dan letak niat itu adalah di HATI.

Demikian besar fungsi hati, sehingga wajar saja bila Imam Al Ghazaly mengkatagorikan Ilmu ini menjadi ilmu yang fardlu ain untuk dituntut.

Dikajian tasawuf, pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Hal ini sesungguhnya untuk penyelarasan dari Ilmu Tauhid dan Syariat, yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.

Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu”. “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya”.

Sementara Ali. R.A mengatakan bahwa : “Awwaluddina Ma’rifatullah”. “Awalnya beragama adalah mengenal Allah”.

Sehingga dapat dilihat hubungannya, bahwa Mengenal diri (An-Nafs) merupakan awal dari seorang beragama dengan haq.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

———
HATI
———
Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan cerminan dari HATI-nya.

Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal Hati kita sendiri.

Hati itu terdapat 2 jenis :

1. Hati Jasmaniyah

Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya, bahkan orang yang telah matipun memilikinya.

2. Hati Ruhaniyyah

Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.

Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati jenis 2, hati Ruhaniyyah.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :

“… Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu …” (QS. 49:7)

“…karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, …”. (QS. 49:14)

“…Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka …” (QS. 58:22)

Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :
“…Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin”.

————————————————————————————-
Catatan : Apakah sebenarnya Iman (mukmin) itu ?
Bahasan tentang Iman (mukmin) akan dibahas lebih lanjut dalam Subject NUR IMAN.
————————————————————————————-

Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman. Dengan hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.

Sebelum kita beranjak jauh tentang hati, ada beberapa hal yang nantinya bersangkut paut dengan hati dan perlu kita jelaskan terlebih dahulu.

Kebanyakan orang hanya mengerti bahwa manusia itu hanya terdiri jasad dan ruh. Mereka tidak mengerti bahwa sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu : jasad, jiwa dan ruh.

Banyak orang yang tidak mengerti tentang Jiwa ini. Bahkan dalam bukunya Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa
ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang?

Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).

———————
RUH (Ar Ruh)
———————

Perkataan Ruh, mempunyai dua arah. Sebagai nyawa dan sebagai suatu yang halus dari manusia.

1. Nyawa

Pemberi nyawa bagi tubuh. Ibarat sebuah lampu yang menerangi ruangan. Ruh adalah lampu, ruangan adalah tubuh. Mana yang terkena cahaya lampu akan terlihat. Mana yang terkena ruh akan hidup.

2. Yang Halus dari Manusia

Sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini yang berhubungan dengan hati yang halus atau hati ruhaniyah.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menggunakan kata Ruh dengan kata Ruhul Amin, Ruhul Awwal, dan Ruhul Qudus.
Adapun maksud-maksud dari kata tersebut merujuk kepada keterangan yang berbeda-beda yaitu :

1. Ruhul Amin

Yang dimaksud dengan ini adalah malaikat Jibril.

“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin”. (QS Asy-Syu’araa’ : 192-193)

2. Ruhul Awwal

Yang dimaksud dengan ini adalah nyawa atau sukma manusia.

3. Ruhul Qudus

Yang dimaksudkan dengan ini bukanlah malaikat Jibril, tetapi ruh yang datang dari Allah, yang menguatkan, menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.

Katakanlah : “Ruhul Qudus menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS An Nahl : 102)

“… dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus… “. (QS Al Baqarah :87)

“…Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang dari pada-Nya…”. (QS Al Mujadillah : 22)

————————————————————————————-
Catatan : Bahasan Mengenai Ruhul Qudus akan dibahas lebih jauh dalam Subject RUHUL QUDUS
————————————————————————————-

Setelah kita mengetahui definisi-definisi atau penjelasan mengenai jasad, jiwa, dan ruh mungkin kita akan bertanya, lalu apa manfaatnya?

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

JASAD
———–
Jasad adalah anggota tubuh dari manusia. Seperti : tangan, kaki, mata, mulut, hidung, telinga, dan lain-lainnya. Bentuk dan keberadaannya dapat diindera oleh manusia. Hewanpun dapat menginderanya.
———–

Dari jasad inilah, timbulnya kecenderungan dan keinginan yang disebut SYAHWAT. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an :

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”. (QS Ali Imran : 14)

———————–
JIWA (An Nafs)
———————–

An-Nafs dalam kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diartikan dengan Jiwa atau diri. Padahal sesungguhnya An-Nafs ini menunjuk kepada dua maksud, yaitu : hawa nafsu dan hakikat dari manusia itu sendiri (diri manusia).

1. Hawa Nafsu

Nafsu yang mengarah kepada sifat-sifat tercela pada manusia. Yang akan menyesatkan dan menjauh dari Allah. Inilah yang oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas :

“Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu”.

“Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk”. (QS Yusuf : 53)

“… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…”. (QS Shaad : 26)

2. Diri Manusia

Diri manusia ini apabila tenang, jauh dari goncangan disebabkan pengaruh hawa nafsu dan syahwat, dinamakan Nafsu Muthmainnah.

“Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu, merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya”. (QS Al Fajr : 27-28)

Namun diri manusia yang tidak sempurna ketenangannya, yang mencela ketika teledor dari menyembah Tuhan, disebut Nafsu Lawwamah.

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat mencela kejahatan (Nafsu Lawwamah)”. (QS Al Qiyamah : 2)

TENTARA HATI
————————-

Hati itu bagi seorang manusia, bagaikan raja dengan tentara-tentara berupa tentara zahir dan tentara bathin.

Ketika seorang berada dalam ancaman bahaya, maka orang tersebut untuk menolak atau melawan bahaya, memerlukan dua tentara tsb.
Tentara batin : yaitu marah untuk melawan ancaman bahaya, tentara Zahir : yaitu tangan dan kaki untuk mengeluarkan langkah-langkah perlawanan.

Demikian pula ketika seorang akan makan. Ia memerlukan dua tentara tsb.
Tentara batin : Syahwat untuk makan, tentara zahir : tangan dan kaki untuk mengambil makanan.

Seorang sedang lapar bagaimanapun, bila hatinya mendiamkan syahwat (keinginan jasad) untuk makan dan tidak memerintahkan tangan dan kaki untuk mengambil makan, maka ia tidak akan melakukan pekerjaan makan.

Untuk itulah dikatakan HATI adalah Raja, bagi seluruh tubuh dan diri manusia.

Sehingga penting Raja untuk mengarahkan kemana tubuh dan diri berjalan, sangat menentukan sekali.

————————————————
HATI DI TIGA PERSIMPANGAN
————————————————

Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan. seperti gambar dibawah ini :

Ruhul Qudus
/
/
Nafsu Muthmainnah
/
/
Syahwat —- HATI
\
\
Hawa Nafsu

Hati berada dalam pengaruh Jasad (Syahwat), Hawa Nafsu, dan Nafsu Muthmainnah.

Seorang manusia, yang membiarkan hatinya berada dalam dominasi Syahwat dan Hawa Nafsunya, maka akan menjadi orang yang tersesat. Yang lambat laun bisa tergelincir menjadi orang yang dimurkai Allah.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)”

Hawa Nafsu itu melingkupi segala aspek. Tidak diperbolehkan kita mengikuti hawa nafsu, dalam BERAGAMA sekalipun.

Banyak para aktivis dakwah, demikian bersemangatnya dalam berdakwah kadang kala terlena, tidak menyadari kalau dalam mengatur strategi dakwah, telah ditunggangi oleh Hawa Nafsunya.

Banyak pula para alim-ulama, yang demikian bangga terhadap ilmu yang dipelajarinya, sehingga merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling benar, dan selainnya (selain golongannya) adalah pendapat yang salah.

Tidak disadari bahwa Hawa Nafsu telah merasuk dalam kemurnian beragamanya.

Dan kalaulah kita dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat ini, maka Allah menjanjikan :

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).
(QS. 4:66)

Apakah dalam ayat diatas, maksud bunuh diri adalah mengambil pisau lalu menghujamkannya ke perut? Atau mengambil racun lalu meminumnya?

Bukan !

Inilah kesalahan yang dapat terjadi bila kita tidak mengetahui arti yang sesungguhnya dari kata An-Nafs tersebut.

Dalam ayat ini dalam Arabnya dipergunkan kata Anfus (Jamak dari An-Nafs).
Bila Al Qur’an menggunakan An-Nafs dalam bentuk jamak, ini sesungguhnya merefer kepada Jiwa-jiwa yang banyak. Yaitu Hawa Nafsu. Karena bentuk Hawa Nafsu itu banyak. Seperti marah, sombong, ria, ujub, ingin dihormati, dsb.

Namun bila An-Nafs ini dalam bentuk tunggal, maka sesungguhnya ia merefer kepada Jiwa yang tunggal yaitu Nafsu Muthmainnah. Karena memang Nafsu Muthmainnah ini tunggal. Dan ini merupakan Hakikat diri manusia.

Jadi, bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud : Keluar dari Dominasi Hawa Nafsu.

Keluar dari kampungmu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud : keluar dari kampung si Jiwa, yaitu Jasad. Atau keluar dari dominasi Syahwat.

Sehingga, bila seorang dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwatnya, sesungguhnya Allah akan menguatkan iman mereka.

Namun… Sangat sedikit sekali yang mau melaksanakan ini.

Hawa Nafsu dan Syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi dikontrol oleh Nafsu Muthmainnah.

Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali dikekang.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (QS. 79:40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:41)”

Kesalahpahaman pengartian An-Nafs juga berimplikasi kepada penafsiran yang kadang kala kurang tepat pada ayat-ayat seperti dibawah :

“… Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. … (QS. 4:95)”

Banyak orang sering langsung mengarah kepada ayat-ayat sejenis diatas, berjihad dengan harta dan Jiwa (An-Nafs) adalah merupakan perang fisik.

Apakah memang demikian? Apakah Islam harus selalu perang sementara Islam adalah sebuah agama yang damai?

Memang betul, dalam kondisi yang mewajibkan kita berperang ayat ini merupakan perintah pula untuk berperang.

Namun dalam kondisi damai ada yang lebih berat dibandingkan dengan perang fisik, yaitu berjihad melawan syahwat dan hawa nafsu.

Setelah melakukan perang dan akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat :

“Kita kembali dari jihad kecil kepada perjuangan besar”.

(Hadits riwayat Al Baihaqy dan Jabir,).

Terlepas dari ke-dhoifan hadits diatas logikanya seperti ini : Seorang manusia yang telah dapat melepaskan hatinya dari takut kehilangan harta, keluarga, jabatan, dsb, hanya seorang yang telah mampu melawan syahwat dan hawa nafsunya.

Kalaulah kita temukan orang yang seperti ini, niscaya dia tidak takut lagi mati. Niscaya dia tidak akan pernah mengelak dari perintah untuk berperang, bila kondisinya mewajibkannya untuk berperang.

Tetapi orang yang hatinya masih takut kehilangan harta, pekerjaan, keluarga, jabatan, dsb. ia akan takut mati. Peperangan adalah sebuah hal yang sangat berat baginya.

Artinya, dalam logika sederhana tersebut, akan tergambar, kalaupun hadits tsb dhoif dari sanadnya, namun secara ilmiah hal itu dapat dibenarkan dan secara mathan, tidak ada ayat Al Qur’an yang bertentangan dengannya.

Dalam bahasan saya diatas, saya juga mencoba menunjukkan, bahwa tasawuf yang bagi sebagian orang diidentikkan sebagai pola pendekatan Islam yang mengabaikan perintah untuk berperang adalah kurang tepat.

Berperang adalah suatu kewajiban apabila kondisinya mewajibkan untuk melakukannya. Namun bila masa damai bukan lantas mencari-cari supaya ada perang! Tetapi melakukan jihad yang lebih berat, yaitu melawan Hawa Nafsu dan Syahwat.

Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang mampu melawan Hawa Nafsu dan Syahwatnya ini dengan menguatkan iman dan surga sebagai tempat tinggalnya.

Semoga kita termasuk kedalam golongan orang yang dikuatkan Allah untuk melawan dominasi syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.

————————————–
NAFSU MUTHMAINNAH
————————————–

Seorang yang hatinya telah didominasi oleh Nafsu Muthmainnah, bukan lagi oleh syahwat atau hawa nafsu, maka Nafsu Muthmainnah menjadi Imam bagi seluruh tubuh dan dirinya.

Dan seperti dikatakan dalam penjelasan sebelumnya, sesungguhnya Nafsu Muthmainnah inilah yang disebut Jati Diri manusia itu. Hakikat dari manusia itu.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (An-Nafs) mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. 7:172)

Siapakah yang berjanji dalam ayat diatas ? Apakah kita pernah merasa berjanji?

Yang berjanji seperti disebutkan di ayat diatas, bukanlah ruh. Tetapi Jiwa yang tunggal, Nafsu Muthmainnah.

Namun kemana Nafsu Muthmainnah kita sekarang?

Sejak kita dilahirkan ke bumi, berapa puluh tahun yang lalu, sudah berapa banyak kita membiarkan hati kita di dominasi Syahwat dan Hawa Nafsu?

Pada dasarnya, Jiwa (Nafsu Muthmainnah) kita ini seperti juga jasad. Jasad membutuhkan makan, demikian pula dengan Jiwa.

Jasad membutuhkan makanan berupa : karbohidrat, vitamin, mineral, protein,
dsb. Jiwa juga membutuhkan makanan, seperti : shalat, dzikir, puasa, dsb.

Dalam sehari orang pada umumnya jasadnya membutuhkan makan 3 kali, dengan kadar karbohidrat, vitamin, mineral, protein tertentu. Apabila ini tidak terpenuhi maka akan sakit, bahkan mati.

Demikian pula jiwa.
Dalam sehari Allah telah menetukan makanan minimalnya :

==========================================
MAKANAN JUMLAH KADAR (misal)
==========================================

Subuh 2 Rakaat 200

Dzuhur 4 Rakaat 400

Ashar 4 Rakaat 400

Maghrib 3 Rakaat 300

Isya 4 Rakaat 400
————————————————————————————
Total 17 Rakaat 1700
==========================================

Dalam sehari Allah mempersyaratkan minimal 1700 nilai (misal untuk memudahkan deskripsi) bagi jiwa kita.

Namun ketika subuh kita sholat sambil mengantuk, mungkin nilainya hanya 50.
Dzuhur selagi masih banyak perkerjaan, nilainya mungkin 20. Ashar Sudah hampir pulang bekerja, nilainya mungkin 40. Maghrib sudah sampai rumah tapi masih capek, mungkin nilainya 60. Isya bisa konsentrasi dengan baik mungkin nilainya 400.

Namun dalm sehari itu total yang dikonsumsikan oleh Jiwa hanya 570. Jauh dari nilai minimal 1700. Dan selama puluhan tahun hidup tahun ini, sepanjang hari kita kurang dalam memberikan konsumsi pada Jiwa.

Apa yang terjadi? Jiwa kita sakit. Nafsu muthmainnah sakit. Mungkin sekarang ia lumpuh, buta, tuli, dan bisu, atau mungkin mati !

Itulah yang dikatakan Allah :

Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (QS. 2:18)

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)

Hati adalah tempat dari Nafsu Muthmainnah. Ketika Nafsu Muthmainnah yang dominan terhadap hati, maka hati itu adalah si Nafsu Muthmainnah.

Kita tidak menyadari, bahwa dengan perjalanan hidup kita selama sekian puluh tahun, dengan memberikan konsumsi makanan yang kurang terhadap Jiwa kita dan membiarkan terdominasi oleh Hawa Nafsu dan Syahwat, Jiwa (hati) kita menjadi lumpuh, buta, tuli, bisu, bahkan mungkin mati.

Jiwa (hati) kita menjadi sakit. Sehingga lupa terhadap perjanjian yang pernah diucapkan pada Allah seperti dalam QS 7:172.

——————————
JIWA YANG SEHAT
——————————

Ada orang-orang yang berhasil dalam pelaksanaan agamanya, menghidupkan dan menyehatkan kembali Jiwa (Nafsul Muthmainnah) nya.

Sehingga hatinya di dominasi oleh Nafsul Muthmainnahnya. Jiwa yang sekarang ini abstrak/ghaib (tidak terindera) oleh kita, apabila telah hidup, telah sehat, maka matanya akan melihat, telinganya akan mendengar, mulutnya dapat berkata-kata.

Jiwa apa bila melihat maka ia akan melihat sesuai dengan dimensi keghaibannya. Inilah yang dalam terminologi tasawuf dikatakan Mukasyafah.

Jadi bukanlah suatu hal yang aneh dikalangan para pejalan tasawuf yang lurus, dapat melihat jin, malaikat, jiwa-jiwa manusia yang telah mati, dan lain sebagainya yang menurut pandangan kita adalah sesuatu yang ghaib.

Karena sesungguhnya bukan mata inderawi (jasad) lah yang melihat tetapi mata si Jiwa yang ada didalam dada.

Dan sehatnya Jiwa Muthmainnah inilah, salah satu paramater seorang telah beriman dengan benar.

Sumber-sumber :
1. Al Qur’an dan Terjemah
2. Al Ihya Ulumuddin, Jilid IV : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Prof. TK. H. Ismail Yakub SH. MA, CV Faisan, Jakarta, Indonesia
3. Minhajul Abidin : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Meniti Jalan Menuju Surga, M. Adib Bisri, Pustaka Amani, Jakarta, Indonesia
4. Tao Of Islam : Sachiko Murata, Mizan, Bandung, Indonesia
5. Jalan Ruhani : Said Hawwa, Mizan, Bandung, Indonesia
6. Kajian Islam : Zamzam Ahmad Jamaluddin, drs. MSc, Yayasan Islam Paramartha, Bandung, Indonesia



Tanda hati itu mati….

•February 24, 2009 • 1 Comment

*~*10 Tanda Hati Kita Mati, Solat Jadi Lalai *~*

1~ Mengaku kenal Allah S.W.T tetapi tidak menunaikn Hak2-NYA

2~Mengaku cinta kepada Rasullah S.A.W tetapi mengabaikan sunnah baginda

3~Memakan nikmat2 Allah S.W.T tetapi tidak mengsyukuri atas pemberian-NYA

4~Mengaku Syaitan itu musuh tetapi tidak berjuang menetangnya.

5~Mengaku ada nikmat Syurga tetapi tidak beramal utk mendapatkannya

6~Membaca Al-Quran tetapi tidak beramal dgn hukum2 di dalamnya.

7~Mengaku adanya seksa neraka tetapi tidak berusaha utk menjauhinya.

8~Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa tetapi masih tidak bersedia utknya.

9~Menyibukan diri membuka keaiban org lain tetapi lupa akan keaiban sendiri.

10~Menghantar dan menguburkan jenazah/ saudara Seislam tetapi tidak mengambil pengajaran darinya

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.